A.
Ayat,
Terjemah dan Penafsiran ‘Ulama
1.
Q.S.
al-Isra’ ayat 85
Artinya : dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit". (85)[1]
Sejatinya Asal
muasal ayat ini diturunkan adalah ketika ada sebagian kaum Musyrikin (Ahli
kitab) yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai sebuah perkara gaib yaitu
ruh. Mereka bertanya, “Apa itu Ruh ?” lalu Allahlullah menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan konsep al
Qur’an, yakni konsep yang mengajarkan bahwa sesungguhnya manusia itu dalam
menyikapi sebuah permasalahan haruslah sesuai dengan kadar pemikiran
kemanusiaan mereka. Yakni akal dan Ilmu Pengetahuanya. Maka tidak dibenarkan
membebani potensi akal manusia yang telah dikaruniakan oleh Allah dengan
perkara-perkara yang diluar kemampuanya.
Menurut Sayyid
Quthb dalam tafsirnya, Ia berpendapat bahwa Bukan berarti jawaban al Qur’an ini
membungkam manusia untuk berfikir dan berbuat. Pada jawaban tersebut terkandung
suatu arahan bagi akal agar ia tetap bekerja pada batasnya dan pada
bidang-bidang yang ia ketahui.
Ruh merupakan
perkara gaib Allah dan salah satu dari rahasia-rahasiaNya. Banyak manusia yang
pandai berkarya di dunia dengan segala kepintaranya. Namun, ia tidak akan mampu
tahu apa sejatinya ruh itu, bagaimana datangnya, bagaimana perginya dan lain
sebagainya melainkan hanya diberi sedikit informasi tentang perkara ini oleh Allah dalam kitabNya.[2]
2.
Q.S.
al-Anfal ayat 2
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman[3]
ialah mereka yang bila disebut nama Allah[4]
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman
mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (2)[5]
Ayat ini
merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yakni al-Anfal ayat 1 yang
menjelaskan sikap orang mukmin pada saat terjadinya perselisihan pendapat
tentang pembagian harta rampasan perang. Pada ayat ini Allah menjelaskan
sifat-sifat orang mukmin dalam setiap keadaan sebagai penjelasan lebih lanjut
dari ayat sebelumnya.[6]
Sebagian besar
Ulama berpendapat bahwa Allah SWT menjelaskan apa yang disebut dengan
orang-orang mukmin adalah mereka yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang
terdapat pada ayat-ayat ini :
Pertama,
Apabila
disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya karena ingat keagungan dan
kekuasaanNya. Pada saat itu timbul dalam jiwanya perasaan penuh haru, mengingat
besarnya nikmat dan karuniaNya. Mereka akan merasa takut apabila mereka tidak
memenuhi tugas dan kewajiban sebagai hamba Allah, dan merasa berdosa apabila
melanggar larangan-larangaNya. Bergetarnya hati di sini merupakan perumpamaan
dari sifat takut.
Kedua,
Apabila
dibacakan ayat-ayat Allah maka akan bertambah iman mereka, karena ayat-ayat itu
mengandung dalil-dalil yang kuat, yang mempengaruhi jiwanya sedemikian rupa
sehingga mereka bertambah yakin dan mantap serta dapat memahami kandungan
isinya, sedang anggota badanya tergerak untuk melaksanakan atau mengamalkannya.
Bertambah dan berkurangnya iman seseorang dapat dilihat dari ilmu dan amalnya,
sebab iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang bulat dan tidak dapat
dipisahkan.
Ketiga,
Bertawakal hanya kepada Allah Yang Maha Esa, tidak berserah diri kepada yang
selainNya. Tawakal merupakan senjata terakhir seorang mukmin setelah ia
melakukan serangkaian amal dan serangkaian tindakan atau perbuatan.
Hal ini dapat dipahami, karena pada
hakekatnya segala macam aktifitas dan perbuatan hanya terwujud menurut hukum
yang berlaku dan tunduk dibawah kekuasaan Allah. Maka tidaklah benar apabila
berserah diri kepada selain Allah.[7]
3.
Q.S.
ar-Ra’d ayat 28
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati
Allah-lah hati menjadi tenteram. (28)[8]
Ayat
ini merupakan salah satu jawaban Allah dan tambahan keterangan terhadap
permintaan orang-orang kafir, di ayat seblumnya (ar-Ra’d ayat 26 & 27)
yakni permintaan mukjizat yang membuktikan kenabian Rasulullah SAW karena
mereka mengingkari bahwa al Qur’an adalah mukjizat yang membuktikan hal itu. Selain
itu, melalui ayat ini Allah SWT juga menjelaskan kepada mereka mengenai keadaan
orang-orang mukmin yang bertaqwa.
Orang-orang
ini digambarkan oleh Allah adalah orang-orang yang menuju kepada Allah,
memikirkan dalil-dalilNya dan jalan-jalan ibadah, Allah akan membukakan mata
hati dan membukakan mata mereka. Mereka memperoleh keberuntungan yang baik dan
kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Inilah orang-orang yang beriman. Hatinya
akan selalu cenderung ke Allah dan merasa tentram ketika mengingatNya. Apabila
ragu-ragu tentang wujudNya maka nampaklah bagi mereka dalil-dalil keEsaan Allah
di dalam ayat-ayat dan keajaiban kejadian.
Ketahuilah,
sesungguhnya dengan mengingat Allah semata, hati orang-orang mukmin akan
menjadi tenang dan hilanglah kegelisahan. Hal ini karena Allah akan melimpahkan
cahaya iman kepadanya yang nantinya cahaya itulah yang akan melenyapkan
kegelisahan serta kesedihan.[9]
4.
Q.S.
al-Fajr ayat 27-28
Artinya : Hai jiwa yang tenang. (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
puas lagi diridhai-Nya. (28)[10]
Ayat-ayat ini merupakan penegasan sikap
Allah terhadap manusia yang tidak sudi mengikuti sifat-sifat ketamakan, yakni
sifat-sifat yang apabila diberi kelapangan rizki maka ketamakan akan menguasai
dirinya dan ia akan cenderung mengejar kepuasan nafsu sahwatnya serta
keinginan-keinginannya. Semua tindakan itu akan terlepas dari kendali pikiran
sehat. Allah menjelaskan bahwa manusia yang tidak mengikuti sifat itu akan
menduduki martabat kesempurnaan.
Manusia semacam
ini hatinya selalu merasa tenang dan tentram. Sebab ia selalu merasa bahwa perbuatanya
selalu diawasi oleh Allah. Ia hanya akan menginginkan hal-hal yang bersifat
ruhaniah, yang bisa mengisi jiwanya. Ia akan membenci kelezatan yang bersifat
jasmaniah. Orang semacam ini jika dikaruniai kekayaan, ia tidak akan mengambil
selain haknya sendiri dan apabila ditimpa kefakiran ia bersabar dan tidak akan
menadahkan tangan meminta bantuan orang lain. Allah menjelaskan kelak orang-orang
ini akan berada di sisiNya dan akan mendapatkan keridhoan atas amal yang telah
ia lakukan di dunia.[11]
B.
Analisis
Kependidikan
1.
Makna
Pendidikan Ruhani
Dalam Surat al-Isra
ayat 85 telah disebutkan bahwa Ruh merupakan salah satu rahasia Allah dan
manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya berdasarkan
keterangan-keterangan yang terkandung dalam al Qur’an. Hal ini dapat memberikan
gambaran kepada manusia bahwa kemampuan akal manusia itu terbatas, sehingga
dalam menuntut sebuah ilmu adakalanya manusia akan menemui sebuah batasan yang
memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Terkait dengan
Ruh ini, Imam al Ghazali dan sebagian ulama mendevinisikan Ruh sebagai lutf
rabbani (Kelembutan Tuhanku) yang merupakan hakikat hati. Ruh dan hati
saling bergantian mengacu pada kelembutan tersebut dalam satu keteraturan.[12]
Artinya disini bahwa sebagian ulama berpendapat ruh dan hati itu saling
bersingkronisasi, apabila seseorang memiliki hati yang baik maka ruhnya pun akan
baik pula, begitupun sebaliknya.
Hati yang baik
adalah hati yang dipenuhi iman, berdasarkan Surat an-Anfal ayat 2
disebutkan bahwa ada beberapa ciri orang yang memiliki hati yang dipenuhi iman
ini. Diantaranya adalah hatinya akan bergetar bila mendengar asma Allah, ketika
dibacakan ayat-ayat Qur’an maka ia akan semakin yakin dengan keagungan
ayat-ayat Allah sehingga tergerak untuk mengamalkanya serta ia akan senantiasa
bertawakal hanya kepada Allah SWT bukan keselainNya.
Selain itu,
dalam Surat ar-Ra’d ayat 28 juga disebutkan ciri lain yakni memiliki
hati yang tentram dalam setiap keadaan, hati yang tetram ini dapat diperoleh
melalui berdzikir mengingat Allah. Dzikir kepada Allah tidak sekedar perkataan
yang menempel pada lisan dan tidak ada hubungan dengan hati. Akan tetapi dzikir
kepada Allah sejatinya ada dengan menggerakan hati dan seluruh anggota tubuh.
Hati dan lisan menyatu.[13]
Maksudnya disini ialah bahwa seseorang yang senantiasa berzikir kepada Allah
maka hati, jiwa dan seluruh anggota tubuhnya akan selalu menjalankan
perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Hal ini senada
dengan surat al-Fajr ayat 27-28 orang-orang yang beriman ini bisa juga
disebut dengan orang-orang yang memiliki jiwa yang tenang (an nafs al
mutmainnah) kerena jiwa yang tenang ini adalah jiwa yang cenderung ingin
selalu kembali dan dekat kepada Allah serta menerima dengan rela apa yang sudah
digariskan Allah dan menjalankan semuanya dengan perasaan puas pula. Selain itu
jiwa ini batinya tidak cemas, lagi sedih, karena merasa optimis untuk
memperoleh rahmat Allah. Perasaan seperti ini timbul akibat adanya iman yang
mantab terhadap Allah, amal sholeh yang nyata dan ikhlas, dan keyakinan yang
kuat bahwa Allah akan membalasnya pada hari Akhir.[14]
Dari sini dapat
dipahami bahwa manfaat menjadikan hati yang baik selain menjadikan ruhnya pun
baik masih sangat banyak oleh karena itu sepatutnya Di dunia pendidikan sekarang
ini tidak hanya aspek akal manusia lah yang menjadi fokus utamanya, melainkan
juga aspek ruhaniah perlu mendapat perhatian lebih. Pengelolaan hati atau
manajemen Qalbu untuk memperoleh kebahagian dunia akhirat serta senantiasa menjadikan
jiwa selalu terhubung dengan Sang Ilahi inilah yang disebut dengan pendidikan
Ruhani.
2.
Nilai-Nilai
Pendikan Ruhani yang Terkandung
Berdasarkan Surat al-Isra ayat 85 ada nilai-nilai
kependidikan yang dapat kita ambil. Diantaranya, Dalam menuntut sebuah ilmu,
seseorang haruslah menuntut ilmu tersebut sesuai dengan batas-batas kemampuan
yang telah Allah karuniakan kepada dirinya. Ia harus sadar bahwa di dunia ini
ada juga ilmu ataupun hal-hal yang merupakan rahasia Ilahi. Contohnya adalah
perkara Ruh.
Selain itu ayat
ini juga menunjukan keagungan serta kebesaran Allah yang telah menciptakan salah
satu komponen kehidupan manusia yang sangat istimewa di dalam tubuh manusia
yaitu ruh. Sehingga manusia akan merasa bahwa ilmu yang dimiliki sekarang ini
tidaklah ada apa-apanya di hadapan Allah dan dengan ini semakin membuat manusia
mengagumi dan mencintai Allah.
Kemudian, Nilai
pendidikan yang terkandung dalam Surat an-Anfal ayat 2 dan ar-Ra’d
ayat 28 kedua ayat ini sangat berkaitan dengan ayat sebelumnya yakni
ayat yang berkaitan tentang ruh dan hati, ayat ini menerangkan tentang
pendidikan yang dilakukan untuk menjadikan ruh manusia menjadi ruh yang baik. Telah
disinggung sebelumnya bahwa ruh dan hati saling bersingkronisasi, jadi
pendidikan ruhaniah di ayat ini memang bertujuan untuk merubah hati yang
nantinya akan berkolerasi dengan ruh itu sendiri. Adapun caranya diantaranya
adalah dengan berzikir mengingat Allah, membaca dan mengamalkan ayat-ayat Allah
serta senantiasa bertawakal kepadaNya.
Jika ditarik
garis lurus dengan dunia pendidikan masa kini maka seharusnya seorang Pendidik
itu harus mampu mendidik muridnya bukan hanya mendidik akalnya saja melainkan
juga harus mampu mendidik ruhaniahnya yakni :
a.
Ia senantiasa membuat
muridnya mengingat Allah dalam berbagai keadaan termasuk ketika ia sedang
mengajarkan suatu ilmu,
b.
Ia memberi
gambaran bahwa Segala sesuatu / materi pendidikan yang ia ajarkan ini senantiasa
bersumber dari ayat-ayat Allah.
c.
Ia senantiasa membuat
muridnya untuk selalu mengamalkan ajaran-ajaran al Qur’an dan menjauhi
larangan-larangan yang ada di dalamNya.
d.
Ia akan selalu
mengingatkan muridnya untuk senantiasa bertawakal kepada Sang Pencipta. Sebab
Allah lah yang menentukan segalanya.
Demi bisa
melakukan itu semua maka seorang pendidik haruslah memiliki Potensi ma’nawiyah
yakni potensi jiwa yang digerakan oleh iman, diformat oleh Islam dan
dibimbing oleh ihsan.[15]
Artinya seorang pendidik itu haruslah memiliki iman yang kuat yang selama ini
tindakan atau perilakunya itu berdasarkan syariat-syariat islam serta sejak
dulu ketika ia memperoleh ilmu maka ilmu yang ia peroleh itu membuatnya semakin
dekat denganNya dan ia meyakini bahwa segala perbuatan yang terkait dengan
pemanfaatan ilmunya itu selalu dilihat
oleh Allah.
Terakhir, setelah berhasil melakukan
pengelolaan manajemen qalbu atau pendidikan ruhani inilah maka tibalah waktunya
untuk memetik hasil jerih payah pendidikan yang telah dilakukan. Hal ini
tercermin dalam Surat al-Fajr ayat 27 dan ayat 28 yakni memiliki
jiwa yang tenang, tentram, dekat serta senantiasa diridhoi oleh Allah SWT.
[1] Depag RI, Al Qur’aan dan
Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Penafsir Al
Qur’aan, 1978), hlm. 437.
[2] Sayyid Quthb, Tafsir Fi
Zilalil Qur’an Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003), hlm. 287.
[3] Orang yang sempurna imannya.
[4] Menyebut sifat-sifat yang
mengagungkan dan memuliakanNya.
[5] Depag RI, Al Qur’aan dan
Terjemahnya... hlm. 260
[6] Depag RI, Al-Qur’an dan
Tafsirnya Jilid III, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 570.
[7] Depag RI, Al-Qur’an dan
Tafsirnya Jilid III... hlm. 570.
[8] Depag RI, Al Qur’aan dan
Terjemahnya... hlm. 373.
[9] Ahmad Mustafa al Maraghi, Tafsir
al-Maragi Jilid 13,
(Semarang: CV.
Toha Putra, 1988),
hlm. 174.
[10] Depag RI, Al Qur’aan dan
Terjemahnya... hlm.1059.
[11] Ahmad Mustafa al Maraghi, Tafsir
al-Maragi Jilid 30,
(Semarang: CV.
Toha Putra, 1985),
hlm. 259
[12] Al Ghazali, Mutiara Ihya’ ‘Ulumudin,
(Bandung: Mizan, 2008), hlm. 205
[13] M. Abdul Qodir Abu Fariz, Menyucikan
Jiwa, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 116.
[14] Rif’at Sauqi Nawawi, Kepribadian
Qurani, (Jakarta: AMZAH, 2011) hlm. 61-62.
[15] Cahyadi Takariawan, Refleksi Diri
Seorang Murobi, (Jakarta: Pustaka Tarbatuna, 2003), hlm. 36.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar