Kamis, 04 April 2013

tafsir tentang pendidikan rohani


A.    Ayat, Terjemah dan Penafsiran ‘Ulama
1.      Q.S. al-Isra’ ayat 85
  
Artinya : dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (85)[1]

Sejatinya Asal muasal ayat ini diturunkan adalah ketika ada sebagian kaum Musyrikin (Ahli kitab) yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai sebuah perkara gaib yaitu ruh. Mereka bertanya, “Apa itu Ruh ?” lalu Allahlullah menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan konsep al Qur’an, yakni konsep yang mengajarkan bahwa sesungguhnya manusia itu dalam menyikapi sebuah permasalahan haruslah sesuai dengan kadar pemikiran kemanusiaan mereka. Yakni akal dan Ilmu Pengetahuanya. Maka tidak dibenarkan membebani potensi akal manusia yang telah dikaruniakan oleh Allah dengan perkara-perkara yang diluar kemampuanya.
Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya, Ia berpendapat bahwa Bukan berarti jawaban al Qur’an ini membungkam manusia untuk berfikir dan berbuat. Pada jawaban tersebut terkandung suatu arahan bagi akal agar ia tetap bekerja pada batasnya dan pada bidang-bidang yang ia ketahui.
Ruh merupakan perkara gaib Allah dan salah satu dari rahasia-rahasiaNya. Banyak manusia yang pandai berkarya di dunia dengan segala kepintaranya. Namun, ia tidak akan mampu tahu apa sejatinya ruh itu, bagaimana datangnya, bagaimana perginya dan lain sebagainya melainkan hanya diberi sedikit informasi tentang perkara ini oleh Allah dalam kitabNya.[2]
2.      Q.S. al-Anfal ayat 2
š  
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman[3] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[4] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (2)[5]

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yakni al-Anfal ayat 1 yang menjelaskan sikap orang mukmin pada saat terjadinya perselisihan pendapat tentang pembagian harta rampasan perang. Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat orang mukmin dalam setiap keadaan sebagai penjelasan lebih lanjut dari ayat sebelumnya.[6]
Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa Allah SWT menjelaskan apa yang disebut dengan orang-orang mukmin adalah mereka yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terdapat pada ayat-ayat ini :
Pertama, Apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya karena ingat keagungan dan kekuasaanNya. Pada saat itu timbul dalam jiwanya perasaan penuh haru, mengingat besarnya nikmat dan karuniaNya. Mereka akan merasa takut apabila mereka tidak memenuhi tugas dan kewajiban sebagai hamba Allah, dan merasa berdosa apabila melanggar larangan-larangaNya. Bergetarnya hati di sini merupakan perumpamaan dari sifat takut.
Kedua, Apabila dibacakan ayat-ayat Allah maka akan bertambah iman mereka, karena ayat-ayat itu mengandung dalil-dalil yang kuat, yang mempengaruhi jiwanya sedemikian rupa sehingga mereka bertambah yakin dan mantap serta dapat memahami kandungan isinya, sedang anggota badanya tergerak untuk melaksanakan atau mengamalkannya. Bertambah dan berkurangnya iman seseorang dapat dilihat dari ilmu dan amalnya, sebab iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang bulat dan tidak dapat dipisahkan.
Ketiga, Bertawakal hanya kepada Allah Yang Maha Esa, tidak berserah diri kepada yang selainNya. Tawakal merupakan senjata terakhir seorang mukmin setelah ia melakukan serangkaian amal dan serangkaian  tindakan atau perbuatan.
Hal ini dapat dipahami, karena pada hakekatnya segala macam aktifitas dan perbuatan hanya terwujud menurut hukum yang berlaku dan tunduk dibawah kekuasaan Allah. Maka tidaklah benar apabila berserah diri kepada selain Allah.[7]

3.      Q.S. ar-Ra’d ayat 28
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (28)[8]

      Ayat ini merupakan salah satu jawaban Allah dan tambahan keterangan terhadap permintaan orang-orang kafir, di ayat seblumnya (ar-Ra’d ayat 26 & 27) yakni permintaan mukjizat yang membuktikan kenabian Rasulullah SAW karena mereka mengingkari bahwa al Qur’an adalah mukjizat yang membuktikan hal itu. Selain itu, melalui ayat ini Allah SWT juga menjelaskan kepada mereka mengenai keadaan orang-orang mukmin yang bertaqwa.
      Orang-orang ini digambarkan oleh Allah adalah orang-orang yang menuju kepada Allah, memikirkan dalil-dalilNya dan jalan-jalan ibadah, Allah akan membukakan mata hati dan membukakan mata mereka. Mereka memperoleh keberuntungan yang baik dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Inilah orang-orang yang beriman. Hatinya akan selalu cenderung ke Allah dan merasa tentram ketika mengingatNya. Apabila ragu-ragu tentang wujudNya maka nampaklah bagi mereka dalil-dalil keEsaan Allah di dalam ayat-ayat dan keajaiban kejadian.
Ketahuilah, sesungguhnya dengan mengingat Allah semata, hati orang-orang mukmin akan menjadi tenang dan hilanglah kegelisahan. Hal ini karena Allah akan melimpahkan cahaya iman kepadanya yang nantinya cahaya itulah yang akan melenyapkan kegelisahan serta kesedihan.[9]

4.      Q.S. al-Fajr ayat 27-28
ƒ
Artinya : Hai jiwa yang tenang. (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (28)[10]

      Ayat-ayat ini merupakan penegasan sikap Allah terhadap manusia yang tidak sudi mengikuti sifat-sifat ketamakan, yakni sifat-sifat yang apabila diberi kelapangan rizki maka ketamakan akan menguasai dirinya dan ia akan cenderung mengejar kepuasan nafsu sahwatnya serta keinginan-keinginannya. Semua tindakan itu akan terlepas dari kendali pikiran sehat. Allah menjelaskan bahwa manusia yang tidak mengikuti sifat itu akan menduduki martabat kesempurnaan.
Manusia semacam ini hatinya selalu merasa tenang dan tentram. Sebab ia selalu merasa bahwa perbuatanya selalu diawasi oleh Allah. Ia hanya akan menginginkan hal-hal yang bersifat ruhaniah, yang bisa mengisi jiwanya. Ia akan membenci kelezatan yang bersifat jasmaniah. Orang semacam ini jika dikaruniai kekayaan, ia tidak akan mengambil selain haknya sendiri dan apabila ditimpa kefakiran ia bersabar dan tidak akan menadahkan tangan meminta bantuan orang lain. Allah menjelaskan kelak orang-orang ini akan berada di sisiNya dan akan mendapatkan keridhoan atas amal yang telah ia lakukan di dunia.[11]

B.     Analisis Kependidikan
1.      Makna Pendidikan Ruhani
Dalam Surat al-Isra ayat 85 telah disebutkan bahwa Ruh merupakan salah satu rahasia Allah dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentangnya berdasarkan keterangan-keterangan yang terkandung dalam al Qur’an. Hal ini dapat memberikan gambaran kepada manusia bahwa kemampuan akal manusia itu terbatas, sehingga dalam menuntut sebuah ilmu adakalanya manusia akan menemui sebuah batasan yang memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Terkait dengan Ruh ini, Imam al Ghazali dan sebagian ulama mendevinisikan Ruh sebagai lutf rabbani (Kelembutan Tuhanku) yang merupakan hakikat hati. Ruh dan hati saling bergantian mengacu pada kelembutan tersebut dalam satu keteraturan.[12] Artinya disini bahwa sebagian ulama berpendapat ruh dan hati itu saling bersingkronisasi, apabila seseorang memiliki hati yang baik maka ruhnya pun akan baik pula, begitupun sebaliknya.
Hati yang baik adalah hati yang dipenuhi iman, berdasarkan Surat an-Anfal ayat 2 disebutkan bahwa ada beberapa ciri orang yang memiliki hati yang dipenuhi iman ini. Diantaranya adalah hatinya akan bergetar bila mendengar asma Allah, ketika dibacakan ayat-ayat Qur’an maka ia akan semakin yakin dengan keagungan ayat-ayat Allah sehingga tergerak untuk mengamalkanya serta ia akan senantiasa bertawakal hanya kepada Allah SWT bukan keselainNya.
Selain itu, dalam Surat ar-Ra’d ayat 28 juga disebutkan ciri lain yakni memiliki hati yang tentram dalam setiap keadaan, hati yang tetram ini dapat diperoleh melalui berdzikir mengingat Allah. Dzikir kepada Allah tidak sekedar perkataan yang menempel pada lisan dan tidak ada hubungan dengan hati. Akan tetapi dzikir kepada Allah sejatinya ada dengan menggerakan hati dan seluruh anggota tubuh. Hati dan lisan menyatu.[13] Maksudnya disini ialah bahwa seseorang yang senantiasa berzikir kepada Allah maka hati, jiwa dan seluruh anggota tubuhnya akan selalu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Hal ini senada dengan surat al-Fajr ayat 27-28 orang-orang yang beriman ini bisa juga disebut dengan orang-orang yang memiliki jiwa yang tenang (an nafs al mutmainnah) kerena jiwa yang tenang ini adalah jiwa yang cenderung ingin selalu kembali dan dekat kepada Allah serta menerima dengan rela apa yang sudah digariskan Allah dan menjalankan semuanya dengan perasaan puas pula. Selain itu jiwa ini batinya tidak cemas, lagi sedih, karena merasa optimis untuk memperoleh rahmat Allah. Perasaan seperti ini timbul akibat adanya iman yang mantab terhadap Allah, amal sholeh yang nyata dan ikhlas, dan keyakinan yang kuat bahwa Allah akan membalasnya pada hari Akhir.[14]
Dari sini dapat dipahami bahwa manfaat menjadikan hati yang baik selain menjadikan ruhnya pun baik masih sangat banyak oleh karena itu sepatutnya Di dunia pendidikan sekarang ini tidak hanya aspek akal manusia lah yang menjadi fokus utamanya, melainkan juga aspek ruhaniah perlu mendapat perhatian lebih. Pengelolaan hati atau manajemen Qalbu untuk memperoleh kebahagian dunia akhirat serta senantiasa menjadikan jiwa selalu terhubung dengan Sang Ilahi inilah yang disebut dengan pendidikan Ruhani.
2.      Nilai-Nilai Pendikan Ruhani yang Terkandung
Berdasarkan  Surat al-Isra ayat 85 ada nilai-nilai kependidikan yang dapat kita ambil. Diantaranya, Dalam menuntut sebuah ilmu, seseorang haruslah menuntut ilmu tersebut sesuai dengan batas-batas kemampuan yang telah Allah karuniakan kepada dirinya. Ia harus sadar bahwa di dunia ini ada juga ilmu ataupun hal-hal yang merupakan rahasia Ilahi. Contohnya adalah perkara Ruh.
Selain itu ayat ini juga menunjukan keagungan serta kebesaran Allah yang telah menciptakan salah satu komponen kehidupan manusia yang sangat istimewa di dalam tubuh manusia yaitu ruh. Sehingga manusia akan merasa bahwa ilmu yang dimiliki sekarang ini tidaklah ada apa-apanya di hadapan Allah dan dengan ini semakin membuat manusia mengagumi dan mencintai Allah.
Kemudian, Nilai pendidikan yang terkandung dalam Surat an-Anfal ayat 2 dan ar-Ra’d ayat 28 kedua ayat ini sangat berkaitan dengan ayat sebelumnya yakni ayat yang berkaitan tentang ruh dan hati, ayat ini menerangkan tentang pendidikan yang dilakukan untuk menjadikan ruh manusia menjadi ruh yang baik. Telah disinggung sebelumnya bahwa ruh dan hati saling bersingkronisasi, jadi pendidikan ruhaniah di ayat ini memang bertujuan untuk merubah hati yang nantinya akan berkolerasi dengan ruh itu sendiri. Adapun caranya diantaranya adalah dengan berzikir mengingat Allah, membaca dan mengamalkan ayat-ayat Allah serta senantiasa bertawakal kepadaNya.
Jika ditarik garis lurus dengan dunia pendidikan masa kini maka seharusnya seorang Pendidik itu harus mampu mendidik muridnya bukan hanya mendidik akalnya saja melainkan juga harus mampu mendidik ruhaniahnya yakni :
a.    Ia senantiasa membuat muridnya mengingat Allah dalam berbagai keadaan termasuk ketika ia sedang mengajarkan suatu ilmu,
b.    Ia memberi gambaran bahwa Segala sesuatu / materi pendidikan yang ia ajarkan ini senantiasa bersumber dari ayat-ayat Allah.
c.    Ia senantiasa membuat muridnya untuk selalu mengamalkan ajaran-ajaran al Qur’an dan menjauhi larangan-larangan yang ada di dalamNya.
d.   Ia akan selalu mengingatkan muridnya untuk senantiasa bertawakal kepada Sang Pencipta. Sebab Allah lah yang menentukan segalanya.
Demi bisa melakukan itu semua maka seorang pendidik haruslah memiliki Potensi ma’nawiyah yakni potensi jiwa yang digerakan oleh iman, diformat oleh Islam dan dibimbing oleh ihsan.[15] Artinya seorang pendidik itu haruslah memiliki iman yang kuat yang selama ini tindakan atau perilakunya itu berdasarkan syariat-syariat islam serta sejak dulu ketika ia memperoleh ilmu maka ilmu yang ia peroleh itu membuatnya semakin dekat denganNya dan ia meyakini bahwa segala perbuatan yang terkait dengan pemanfaatan ilmunya  itu selalu dilihat oleh Allah.
  Terakhir, setelah berhasil melakukan pengelolaan manajemen qalbu atau pendidikan ruhani inilah maka tibalah waktunya untuk memetik hasil jerih payah pendidikan yang telah dilakukan. Hal ini tercermin dalam Surat al-Fajr ayat 27 dan ayat 28 yakni memiliki jiwa yang tenang, tentram, dekat serta senantiasa diridhoi oleh Allah SWT.


[1] Depag RI, Al Qur’aan dan Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Penafsir Al Qur’aan, 1978), hlm. 437.
[2] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zilalil Qur’an Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani, 2003), hlm. 287.
[3] Orang yang sempurna imannya.
[4] Menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya.
[5] Depag RI, Al Qur’aan dan Terjemahnya... hlm. 260
[6] Depag RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid III, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 570.
[7] Depag RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid III... hlm. 570.
[8] Depag RI, Al Qur’aan dan Terjemahnya... hlm. 373.
[9] Ahmad  Mustafa al Maraghi, Tafsir al-Maragi Jilid 13, (Semarang: CV. Toha Putra, 1988), hlm. 174.
[10] Depag RI, Al Qur’aan dan Terjemahnya... hlm.1059.
[11] Ahmad  Mustafa al Maraghi, Tafsir al-Maragi Jilid 30, (Semarang: CV. Toha Putra, 1985), hlm. 259
[12] Al Ghazali, Mutiara Ihya’ ‘Ulumudin, (Bandung: Mizan, 2008),  hlm. 205
[13] M. Abdul Qodir Abu Fariz, Menyucikan Jiwa, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 116.
[14] Rif’at Sauqi Nawawi, Kepribadian Qurani, (Jakarta: AMZAH, 2011) hlm. 61-62.
[15] Cahyadi Takariawan, Refleksi Diri Seorang Murobi, (Jakarta: Pustaka Tarbatuna,  2003), hlm. 36.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar