Selasa, 07 Mei 2013

Hukum Berbicara Berlebihan


A.  A.    Apa itu bicara berlebihan ?
Percakapan dengan kalimat yang berlebihan termasuk yang akan membawa kepada kerusuhan dan kerusakan. Kalimat berlebih-lebihan dalam percakapan dapat membuat orang salah tafsir. Mengacaukan topik yang sedang dibahas dan mengacaukan pikiran. Termasuk dalam hal ini adalah suka mengulangi kalimat, memutar-mutar bahasa, menyamarkan kata-kata, sehingga sulit dimengerti. Semua ucapan yang melebihi keperluan, termasuk berlebihan dan tercela, walaupun bukan perbuatan dosa. Hanya tidak etis, diukur dari adab dan sopan santun. Nabi saw bersabda : “orang-orang yang berbahagia, adalah orang yang dapat mengendalikan kata-katanya, supaya tidak menjadi obrolan yang sia-sia (berlebihan), dan yang berlebihan (boros) dalam membelanjakan hartanya.” (HR. Baihaqy)[1]


Firman Allah dalam surat al-isra’ ayat 53

@è%ur ÏŠ$t7ÏèÏj9 (#qä9qà)tƒ ÓÉL©9$# }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) z`»sÜø¤±9$# éøu\tƒ öNæhuZ÷t/ 4 ¨bÎ) z`»sÜø¤±9$# šc%x. Ç`»|¡SM~Ï9 #xrßtã $YZÎ7B ÇÎÌÈ  
Artinya : Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Syaitan selalu megintai manusia, ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian sesama manusia, dan menjadikan persengketaan sebagai perangkap untuk menimbulkan kebinasaan[2].
Sabda Nabi :

عن ابي موسى رضي الله عنه قال: قالوا:يا رسول الله, اي الاسلا م افضل؟ قال : "من سلم المسلمون من السا نه ويده" رواه البخاري.
Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, sejumlah orang bertanya kepada Rasul : “Ya Rasul, siapa muslim terbaik?” Rasul menjawab : “muslim yang lidah dan tanganya tidak menyakiti muslim lainya” (HR. Bukhari)[3].

Marilah kita kembali merenungkan dan sekaligus mempraktikkan sabda Nabi Muhammad: “Berkatalah yang benar atau diam saja!” jangan banyak bicara, kecuali pembicaraan yang dapat menyelesaikan masalah kita atau masalah yang menimpa saudara kita. Yang lebih penting lagi adalah berhenti berkata sia-sia. Insya Allah, dengan cara demikian, hati kita akan menjadi lebih kaya dihadapan Allah dan sesama manusia[4].



B.     Batasan-batasan dan bahaya bicara berlebihan
Lidah manusia mudah di lipat dan mudah dijulurkan. Bisa berkata manis dan bisa berkata pahit. Perantara lisan adalah mulut yang didalamnya terendam lidah. Dari dalam mulut itu dapat mengeluarkan bau harum dan dapat pula mengeluarkan bau busuk.
Itulah lidah yang mengeluarkan ucapan. Padanya tersimpan kebaikan dan kejelekan. Sangat banyak bahaya yang diakibatkan oleh lisan manusia. Pemicunya adalah karakter manusia yang timbul dari dalam hati. Sedangkan hati ibarat telaga yang menyimpan bermacam-macam persoalan dan menampung segala macam problema yangbaik dan yang buruk. Yang berbau harum, berbau amis, berbau busuk.dari telaga itulah mengalir melalui mulut dan bibir, lidah dan lisan, air kebaikan dan air keburukan[5].
Firman Allah dalam surat al-baqarah, ayat ; 263
* ×Aöqs% Ô$rã÷è¨B îotÏÿøótBur ׎öyz `ÏiB 7ps%y|¹ !$ygãèt7÷Ktƒ ]Œr& 3 ª!$#ur ;ÓÍ_xî ÒOŠÎ=ym ÇËÏÌÈ  
Artinya : perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”
Berbicara dengan ucapan-ucapan yang baik adalah langkah ke arah sifat keutamaan untuk menjalankan berbagai macam kebaikan dengan mengharapkan keridlaan Allah menuju jalan surga yang kekal[6].
Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Dnya dan Abu Na’im Rosulullah bersabda : “siapa yang menjaga lidahnya, maka Allah akan menutupi aibnya.” (HR. Ibnu Abi Dnya dan Abu Na’im) karena bicara itu juga dapat menunjukan ekspresi dan kepribadian seseorang, maka sebaiknya seorang muslim itu harus mengetahui beberapa hal dalam berbicara yaitu sebagai berikut :
a.         Sederhana dalam berbicara merupakan satu sifat utama yang harus ditumbuhkan oleh seorang muslim yang baik.
b.      Seorang muslim sebaiknya tidak berbicara hanya sekedar bicara karena beranggapan bahwa diam itu merupakan satu kekurangan.
c.          Seorang muslim harus tunduk pada kebenaran dan mengatakan  kebenaran itu menyenangkan atau tidak.
d.      Seorang muslim harus berfikir secara matang sebelum berbicara dan berusaha untuk tidak mengatakan sesuatu yang mungkin mengakibatkan penyesalan dan yang untuk itu dia harus meminta maaf.
e.         Gaya berbicara harus simpel dan jelas.
f.          Memperhatikan lawan bicara dengan antusias ketika sedang berbicara pada mereka sangat dianjurkan sebagai suatu sikap hormat.
g.         Senantiasa terdapat satu topik spesifik yang berkaitan dengan setiap kesempatan.
h.         Seorang muslim harus merasa yakin dengan kebenaran dan ketepatan apa yang ia ucapkan.
i.           Seorang muslim hendaknya sangat bijak.
j.           Seorang muslim tidak sepantasnya berbicara secara tergesa-gesa melainkan sopan[7].
Islam tidak menyukai sesuatu yang bukan-bukan, ucapan dan omongan yang tidak ada ujung pangkalnya, karena membenci pikiran-pikiran dan urusan yang rendah, yang hanya menghabiskan umur tersia-sia.
Orang yang lemah akal fikiranya, kalau berbicara sering men geluarkan kata-kata yang semaunya saja. Bahkan sering juga mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak merusak hubungan persahabatan maupun kekerabatan.
Dalam hal ini adasatu ungkapan yang mengatakan :

يموت الفتي من عثرة بلسانه # وليس يموت المرء من عثرة الرجل
Artinya : “sekali waktu seorang bisa mati karena terpeleset lidahnya,namun seorang tidak mati karena terpeleset kakinya.[8]
Allah memberi tuntutan kepada manusia, agar manusia berbicara dengan perkataan yang baik dan membiasakan diri dengan ucapan-ucapan yang baik. karena melahirkan isi hati yang baik dengan ucapan perkataan yang baik merupakan sopan santun yang tinggi, oleh karena itu Allah melarang kita berbicara berlebihan karena terdapat berbagai bahaya diantaranya : 
a.       Menunjukan kebodohan (kebohongan)[9].
b.      Tidak dipercaya oleh orang lain.
Seperti firman Allah dalam surat al-qasas ayat ; 55
#sŒÎ)ur (#qãèÏJy uqøó¯=9$# (#qàÊtôãr& çm÷Ztã (#qä9$s%ur !$uZs9 $oYè=»uHùår& öNä3s9ur ö/ä3è=»uHùår& íN»n=y öNä3øn=tæ Ÿw ÓÈötFö;tR tûüÎ=Îg»pgø:$# ÇÎÎÈ  
Artinya:  dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".

c.       Menyebabkan kita kesulitan dalam menghadapi hari perhitungan.
d.      Menghilangkan ketenangan dan ketentraman.
e.       Menjadikan hati keras, dan hati yang keras itu jauh dari Allah[10].

3.  Cara  menghindari bicara berlebihan
Jika kita menghitung pembicaraan seorang, ternyata apa yang mereka bicarakan lebih banyak pembicaraan yang tidak ada gunanya. Allah menjadikan lidah bukan untuk membicarakan yang sia-sia tetapi yang bermanfaat.
Lidah yang bebas seperti tali yang dilepas dari tangan setan, yang bisa menjerat dan mengendalikan manusia menurut kehendaknya. Jika manusia tidak bisa menguasai urusanya (dengan lidahnya), maka mulutnya menjadi lubang tempat buang kotoran dan mempertebal tabir kelailaian. Lidah yang dikendalikan dengan teguh, membuat hati dan iman manusiamenjadi teguh.
Ketika seseorang ingin memusatkan fikiranya untuk melanjutkan pekerjaan yang membutuhkan kecermatan, ia selalu dalam sikap diam. Bahkan ketika ia ingin menhernihkan jiwa dan fikiranya ia menghindari keramaian, ia lebih suka menyendiri di tempat sepi yang tenang. Oleh karena itu untuk menghindari bicara berlebihan (sia-sia) dengan cara diam. Dan sikap diam ini merupakan media pendidikan yang telah teruji. Sabda Rosulullah saw:

عليك بطول الصمت فانه مطردة للشيطان وعون لك علىى امر دينك. (رواه احمد)
Artinya : “hendaklah engkau lebih baik diam, sebab diam itu menyingkirkan syaitan, dan menolong bagimu dalam urusan agamamu[11].
  Rasulullah saw bersabda :
اربع لا تصير الا في مؤمن الصمت وهو اول العبادة وتواضع وذكرالله تعالى وقلة الشر
Artinya : “Empat hal yang tidak terdapat melainkan pada seorang mu’min, yaitu : (1) diam, yang merupakan ibadah yang pertama; (2) rendah hati; (3) dzikir kepada Allah ta’ala ; (4) sedikit sekali berbuat kejahatan ;”.

Seorang cendekiawan mengatakan bahwa diam itu mengandung 7.000 kebaikan, dan kesemuanya itu dirangkum dalam tujuh kalimat yang masing-masing kalimat terdapat seribu kebaikan. Tujuh kalimat itu adalah :
1.      Diam itu merupakan ibadah tanpa susah payah.
2.      Diam itu merupakan perhiasan yang tanpa emas permata.
3.      Diam itu merupakan kewibawaan yang tanpa kekuasaan.
4.      Diam itu merupakan banteng yang tanpa pagar.
5.      Diam itu merupakan kekayaan yang tanpa merendahkan orang lain.
6.      Diam itu merupakan istirahat bagi malaikat pencatat amal.
7.      Diam itu merupakan penutup aib.[12]
Ada yang mengatakan bahwa diam itu merupakan hiasan bagi orang yang pandai, dan merupakan tirai bagi orang yang bodoh.
Menghindari pembicaraan kosong yang tidak ada gunanya termasuk syarat kebahagiaan dan kesempurnaan iman. Dan Al-qur’an telah menetapkan dua kewajiban; shalat dan zakat, disamping kewajiban-kewajiban islam yang sudah pasti


.
Firman Allah :
ôs% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ   tûïÏ%©!$# öNèd Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd Ç`tã Èqøó¯=9$# šcqàÊ̍÷èãB ÇÌÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd Ío4qx.¨=Ï9 tbqè=Ïè»sù ÇÍÈ  
Artinya : sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat,.(Q.S. Al-mu’minun ayat 1-4)

Apabila kita memperhatikan ayat tersebut diatas, kita mendapatkan pengertian sebagai berikut : sungguh berbahagialah :
1.      Orang-orang mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya.
2.      Orang-orang yang menjauhkan diri dari perkataan yang tidak berguna.
3.      Orang-orang yang menunaikan zakat[13].


[1]Drs. Djamaludin Ahmad Al-Bunny, menata akhlaqush shufiyah, (pustaka hikmah perdana surabaya, 2001), hlm.230
[2]Drs. H. Moh. Rifai, akhlaq seorang muslim (cv. Wicaksana semarang, 1992)hlm.165
[3]KH. Ahmad hasan, imam ghozali, dkk, 40 hadist sahih (pustaka pesantren, 2006)hlm.4
[4]Muhammad alain yanto, apakah hatimu bicara, (pustaka pesantren, 2008)hlm.14
[5] Drs. Djamaludin Ahmad Al-Bunny, menata akhlaqush shufiyah, (pustaka hikmah perdana surabaya, 2001), hlm.228
[6] Drs. H. Moh. Rifai, akhlaq seorang muslim....hlm.166
[7] Marwan ibrahim Al kaisi, yang pantas dan patut bagi seorang muslim, (PT Raja Grafindo persada 2002)hlm.185
[8] Al-faqih Nasr bin Muhammad bin ibrahim As-Samarqandi, Tanbihul ghafilin, penerjemah, Drs. H. Muslich Shabir, MA,  (cv : toha putra semarang, 1993) hlm.341
[9]Sa’id hawa, Tazkiyatun nafs intisari ihya’ ulumuddin, (darus salam, 2005) hlm. 498
[10]Mustafa Al-‘adawy, fikih ahlak, judul asli : fiqh al Akhlak wa al Muamalat baina al Mu’minin penerjemah : Salim Bazemol dan taufik Damas, (jakarta : Qisthi press, 2006) hlm. 150
[11] Muhammad Al Ghazali, akhlaq seorang muslim....hlm.161
[12]  Al-faqih Nasr bin Muhammad bin ibrahim As-Samarqandi, Tanbihul ghafilin, penerjemah, Drs. H. Muslich Shabir, MA, . . . .hlm. 343
[13] Muhammad Al Ghazali, akhlaq seorang muslim....hlm.162

Tidak ada komentar:

Posting Komentar